parents

KEKUATAN BERBAHASA

===================
BAHASA = KEKUATAN
===================

“Hebat ya apa yg dilakukan Si Bungsu ini”
Itulah yg terlintas saat menonton video ini.

Namun mari dirunut apa yg terjadi sebelumnya.

Sore itu si Bungsu keluar masuk melewati pagar, tanpa ada yg mengawasi.

Saya dari dalam rumah, dibalik pintu dengan sedikit berteriak berkata “Nak masuk, kalau tidak.. mama tutup pintunya”

Apa yg selanjutnya terjadi?
Si Bungsu mengamuk dan membuang hampir semua sepatu yang ada di dekatnya.

Saya segera keluar dan melakukan hal yg membuatnya semakin tdk nyaman.
Dan yang dilakukannya untuk membalas saya adalah berteriak histeris, lalu membanting rak sepatu hingga menjadi beberapa bagian.

Saya terkejut dan segera menyadari pola komunikasi saya yg salah.

Segera saya menenangkan diri saya sendiri.
Lalu mengangkat putra saya dan mendudukkannya di pinggir ayunan.

Saya berkata padanya dengan nada yang pelan, “Sudah tenang dulu, lihat apa yg terjadi. Raknya patah. Mama tadi marah sekali padamu, dan sekarang mama sedih. Jika rak nya rusak, kita tidak akan punya rak sepatu lagi”

Si Bungsu terdiam, lalu menyeka air matanya, dan mulai tersenyum jahil, senyuman andalannya saat menyadari bahwa yang dia lakukan adalah salah.
Kemudian dia berkata, “Maaf, ya ma”

Lalu kulanjutkan “Mama harap, kamu bisa bertanggung jawab, merakit kembali rak sepatunya. Jika sdh selesai, kamu bisa masuk ke dalam rumah. Mama tunggu di dalam”

Alhamdulillah tanpa bantuan siapapun dia merakitnya hingga tuntas. Saya membantunya mengarahkan dari jauh jika dirinya kesulitan.

Pelajaran yang kudapat hari itu, dan selaras dengan apa yang saya pelajari dalam metode sentra yang kami lakukan di sekolah, dimana kami membentuk karakter anak lewat pola kalimat atau bahasa yang kami ucapkan :

1. Pola komunikasi ancaman (yg saya lalukan pertama) malah memancing emosi anak.

2. Tindakan yg dilakukan dgn emosi, akan membuat anak tidak nyaman, dan dirinya akan mulai menyerang untuk memperlihatkan eksistensi dirinya.

3. Pola komunikasi yg baik tanpa emosi ternyata lebih diterima anak, dan menumbuhkan empati dgn memberi tahu anak perasaan kita.

4. Ketika orang tua menyadari kesalahan dan terjebak dalam emosi yang negatif, segera diam untuk menata emosi, sebelum berbicara dan bertindak.

Balikpapan, 17 Agustus 2018
Martina Irawati Riyadi, SE
Creative Land Preschool

parents, School Information

Rules

Bismillaah..

Perlukah kita memberi aturan pada anak2 kita? Jika bertanya pada saya, saya akan tegas menjawab, PERLU. Sejak kapan kita memberlakukan aturan di rumah? Sedini mungkin.

Di Creative Land, semua menjadi aman terkendali berkat adanya aturan yg kami terapkan. Untuk anak2 usia dini, aturan berasal dari orang dewasa (guru atau orang tua), bukan melalui musyawarah dengan anak. Sebab di usia dini, fitrah anak yang belum terbentuk logikanya, membuat mereka cenderung menerima dan mengikuti aturan.

Kami terbiasa memulai kelas dan bermain sentra dengan mengulang kembali aturan di kelas, bahkan untuk anak2 yg luar biasa, perlu pengulangan dan waktu khusus untuk membahas aturan ini, agar anak dapat memahami maksud dari aturan yg dibuat.

Perlunya anak untuk dapat fokus dan tuntas saat berkegiatan, menyayangi teman, mengontrol gerak dan suara adalah beberapa aturan yang sering saya utarakan.

Bagaimana saat waktu berjalan? Tentu saja pasti ada konflik yg terjadi (sangat jarang kelas berjalan dalam 1 hari dengan tenang), ada yg kurang sabar mengantri, ada yg bergerak terlalu berlebihan, ada yg bercandanya berlebihan hingga teman tersinggung, dan beberapa masalah lain yang menurut kita mungkin sepele, tetapi hal besar untuk anak2.

Di sinilah peran orang tua dan guru sebagai pembimbing diperlukan.. untuk membentuk pola berpikir anak dalam menyelesaikan masalah, dan mengingatkan aturan yang telah dilanggar, serta menjelaskan akibat yg mungkin terjadi.

Beberapa kali saya melihat hal yang menurut saya agak diluar batas kewajaran, dimana orang tua meletakkan keputusan pada anak, seperti mau dijemput dimana, sama siapa, makan apa. Padahal kita harus mengajari anak, untuk menerima kondisi yang sebenarnya. Jangan sampai orang tua menjadi repot dengan menjemput kakak di sekolah cabang, dan menjemput adik di sekolah pusat, padahal seharusnya bisa jadi satu. Ketika anak mulai mengeluarkan tangisan dan rewel yang tentu saja menjadi alat untuk memanipulasi orang dewasa, kita sebagai imam atau pemimpin yg harus mengambil keputusan, dan memberikan pemahaman pada anak perihal hal tsb.

Contoh aturan yg dapat diterapkan sejak bayi, misalkan berdoa sebelum melakukan kegiatan, dan ini kita bahasakan. Contoh lain, makan menggunakan tangan kanan, minum dan makan sambul duduk, dan jika anak lupa, kita ulang kembali aturannya.

So, siap menjelaskan aturan sebelum berkegiatan dengan anak? Yuk, mulai dari sekarang!

parents

Hebatnya kosa kata “Jangan”

Apa sih bun arti kata jangan?
dimengerti sebagai jauhilah kata yang selanjutnya/berikutnya
atau tidak melakukan perbuatan setelah kata “jangan”

Tetapi apakah kata jangan efektif digunakan pada anak-anak usia dini?
Saya pribadi sudah sangat paham dengan kelakuan anak-anak, baik di rumah maupun di sekolah.
Kak, jangan naik-naik ya, nanti adiknya niru…
Dek, jangan loncat-loncat ya, nanti jatuh…
dan hasilnya adalah… mereka tetap melakukannya!
Dan janganlah lupa bahwa apa yang kita ucapkan adalah doa, jadi tidak usah pakai embel-embel nanti…. (yang berisi kalimat negatif)
Jadi bisa dipercaya jika kata jangan sangatlah tidak efektif untuk melarang anak.

Lalu apa yang harus dikatakan oleh orang tua jika ingin melarang anaknya?
Bunda, silahkan coba tips berikut:
Saat si 3-5 thn berlari-lari dan kita ingin dia berjalan, katakan saja “jalan, kak, jalan”
Saat si 1,5-3 thn memanjat, coba katakan “turun dek, turun” jika tidak berhasil juga ubahlah perhatiannya “dek ada mobil truk di luar, ayo kita lihat, yuk.. yuk..”

Kesimpulannya yang diingat anak bukanlah kata Jangan, tetapi apa yang kita katakan, jadi katakanlah hal yang positif atau yang kita ingin anak kita lakukan. Selamat mencoba bun… dan silahkan share tips lain untuk membantu bunda lainnya juga ya…

parents

Sedikit sharing memperkenalkan puasa ke anak kita

Alhamdulillah sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan kembali, semoga kita dapat menjalankan ibadah puasa ini dan diterima oleh Allah SWT, amin.
Saya ingin sharing pengalaman sedikit sewaktu memperkenalkan puasa kepada anak pertama saya, Zahra.
Saat itu Zahra masih di kelas TK B Creative Land, usianya sekitar 5,5thn.
Menjelang Ramadhan, dengan antusias saya bercerita tentang Ramadhan kepadanya, banyak sekali pahala yang akan Allah SWT beri kepada orang yang menjalankan ibadah puasa dengan sungguh2. Dan Zahra kecil pun bertanya, apa itu pahala. Saya jelaskan pahala adalah hadiah dari Allah jika ada anak yang berbuat baik seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT, dan hadiahnya adalah surga.
Apa itu surga? surga adalah tempat yang sangaaatt enak, lebih enak dari apa pun yang ada di dunia. Di sana ada es krim banyak (karena Zahra paling suka es krim), coklat, dan anggur.. Zahra bisa minta terus, tidak akan habis-habis es krimnya… Kalau Zahra pengen tinggal bilang,
“Zahra pengen es krim ya Allah”.. tring.. langsung deh es krimnya ada.. “Enak ya, Zahra?” Zahra senyum-senyum membayangkan es krimnya.
Lalu Zahra bertanya lagi, “kalau Barbie ada juga ma?” nah.. saya agak-agak bingung juga menjawabnya, tapi saya bilang ada.
Dan imajinasinya pun mulai berjalan, “Barbienya hidup ma, nanti Zahra mau ajak main, ngobrol..” saya senyum-senyum aja karena dia mulai ngoceh sendiri.
Esok nya saya bertanya, “Zahra tau nggak, kalau puasa itu nanti kita bangun dan makannya pagi banget.. namanya sahur. Zahra mau ikut sahur?”
“Semua nya sahur ma? Yangti, yangkung, mama..?” Tanyanya.
“Oh iya.. seru lho Zahra” jawab saya.
dan cerita bergulir sambil menerangkan tata cara puasa.
Pada waktu itu di rumah ada anak yang ikut ibu nya bekerja di rumah, alhamdulillah mereka seumuran dan keduanya antusias menyambut puasa.
Saat tiba waktu sahur, saya membangunkan keduanya, mereka senang sekali makan di waktu sahur dan antusias waktu dibangunkannya dengan, “lho bagaimana ini, jadi mau ikut puasa ga? waktu sahurnya sudah mau habis nih..”
Ketika di sekolah, para guru menjelaskan tentang ibadah puasa, kemudian bertanya pada murid-murid, siapa saja yang berpuasa. Kami katakan pada yang tidak berpuasa, agar tidak membuat teman-teman yang puasa menjadi ingin makan atau minum. Dan memberi tahu bahwa jika masih anak-anak, puasanya boleh sampai jam 12 saja dulu jika belum kuat.
Ternyata setelah pulang sekolah, Zahra dan Kiki masih bersemangat untuk meneruskan puasanya hingga waktu berbuka, padahal sewaktu jam 4 biasanya mereka berdua sudah bolak balik bertanya apa menu bukanya, tidak kuat – haus.. tapi kami yang ada di rumah terus menyemangati keduanya (karena sayang sekali, mereka sudah tinggal sedikit lagi sampai di waktu berbuka sesungguhnya), akhirnya lupa juga dengan hausnya karena biasanya saya mengajak mereka bermain, atau menggambar dan membuat proyek-proyek kecil 🙂
Dan saat tiba adzan magrib, keduanya pun sumringah memandang hidangannya, walaupun ternyata makannya hanya secukupnya.
Saat tarawih pun alhamdulillah mereka antusias pergi ke masjid, jika saya malas pergi, Zahra lah yang merengek agar diperbolehkan ke masjid 😀
walaupun saya tahu di sana dia tidak full sholat, di awal-awal memang masih ikut saya terus, lama-lama ternyata Zahra berkenalan dengan anak-anak yang lain, jadi motivasinya memang ingin bertemu teman-teman barunya 🙂
Tapi tidak apa bunda, tetap beri pengertian, tidak boleh ribut di masjid, lari-lari di masjid karena akan mengganggu yang sedang sholat. Alhamdulillah paling tidak, Zahra menyelesaikan sholat Isya dan tarawih 2 rakaat, baru saya perbolehkan main dengan temannya.

Perkenalkanlah ibadah terhadap anak kita sedini mungkin, sehingga insyaAllah anak kita akan terbiasa melihat kita dan ikut menjalankan ibadah tersebut bersama kita, orang tuanya. Karena mereka lah investasi kita di akhirat kelak. Tidak usah memaksa untuk hasil yang sempurna, namun berilah semangat terus, sehingga anak akan terpacu untuk menyelesaikan nya.
Alhamdulillah saat itu Zahra dan Kiki berhasil melalui Ramadhan 1 bulan penuh dengan full… Subhannallah, mereka yang masih berusia 5 tahun saja bisa, semoga kita pun diberi kemudahan oleh Allah SWT, amin.

daycare, parents

Pertimbangan saat Mencari Daycare yang Tepat

Ayah dan Bunda bekerja membuat Ayah dan Bunda harus memikirkan solusi tentang anak, akan diasuh oleh siapa selama Ayah dan Bunda bekerja?
Jika ada keluarga yang tinggal serumah dengan Bunda tentu adik-adik kecil ini bisa dititipkan selama Bunda bekerja, namun Bunda tetaplah harus menunjukkan atensi selama tidak di rumah, seperti menelpon untuk menanyakan kondisi anak, berbicara pada anak sekedar untuk menanyakan kabar dan ceritanya. Jika anak masih bayi berusahalah untuk dapat pulang selama jam istirahat sehingga ASI tetap dapat diberikan dan bonding dengan Bunda tetap didapatkan oleh anak.
Menitipkan anak pada nenek tentulah tidak seperti Bunda mengasuh sendiri, usia nenek yang sudah lanjut tentunya membuat tenaga nenek tidaklah sama seperti saat masih muda, seringkali dijumpai nenek lebih banyak jam istirahat / tidurnya, sehingga anak lebih banyak bermain sendiri.
Atau seringkali dijumpai anak lebih banyak menonton televisi selama mengisi waktu di rumah, ini kemungkinan besar karena pengetahuan yang mengasuh untuk mengeksplorasi dan menstimulasi anak kurang memadai.
Dari beberapa kenyataan ini sangatlah diperlukan atensi, perhatian dan peran serta Bunda selama bekerja untuk mengawasi kegiatan anak selama di rumah. Buatlah jadwal kegiatan anak selama Bunda pergi, berikan training kepada pengasuh sebelum meninggalkan anak dalam pengawasan pengasuh, selalu tanyakan perkembangan anak dan jalinlah komunikasi yang baik dengan pengasuh dan anak, sehingga pengasuh merasa nyaman dan dapat bekerja dengan hati saat mengasuh anak Bunda.

Beberapa orang tua memutuskan untuk menitipkan anak di Taman Penitipan Anak atau Daycare.
Saya akan coba mengulas beberapa hal yang harus Bunda pertimbangkan saat akan memilih Daycare:
1. Daycare secara hukum haruslah didaftarkan ke Dinas Pendidikan, sehingga tanyakanlah ijin operasional Daycare kepada pengelola. Hal ini penting karena dengan terdaftarnya daycare tersebut, maka ada peran serta pemerintah dalam membina pengelola dan owner.
2. Perhatikan lingkungan daycare, jika menurut Bunda ada yang tidak aman, tanyakanlah pada pengelola. Biasanya pengelola mempunyai pertimbangan dan solusinya.
3. Perbandingan anak – pengasuh, karena semakin banyak anak yang ditangani pengasuh, maka semakin sedikit perhatian yang didapat anak. Namun sisi positifnya adalah biasanya anak-anak di daycare dididik untuk mandiri, tidak tergantung dengan pengasuhnya. Banyak anak yang diasuh dengan babysitter yang terbiasa mempersiapkan segala kebutuhan anak, malah membuat anak tidak bisa apa-apa (contoh: makan selalu disuapi, tidak bisa memakai baju & sepatu sendiri, tidak memiliki inisiatif)
4. Tanyakan jika terjadi kondisi darurat apa yang akan dilakukan oleh pengelola, seperti jika anak terjatuh saat bermain bersama temannya, atau hal lain yang tidak diinginkan namun dapat saja terjadi.
5. Tanyakan kegiatan anak selama di daycare, akan lebih baik jika daycare tersebut memiliki program terjadwal karena anak akan terbiasa dengan rutinitas dan disiplin waktu. Selain itu kegiatan stimulasi juga penting, bunda dapat memberikan masukan kepada pengelola jika merasa ada hal-hal yang perlu ditambah.
6. Biasanya daycare maupun sekolah agak kesulitan untuk menghindari cepatnya penyakit seperti flu atau batuk menular, sehingga ini pun harus menjadi pertimbangan Ayah dan Bunda, karena banyak juga orang tua yang masih tetap mengantar anak ke sekolah atau daycare saat anak dirasa tidak terlalu parah sakitnya, sehingga kemungkinan besar 2 jenis penyakit ini sangat sering membuat anak-anak tertular temannya.
7. Perhatikan pula apakah daycare memiliki laporan berkala kepada Bunda agar Bunda dapat mengetahui perkembangan anak Bunda.
8. Perhatikan apakah anak-anak dibiarkan menonton televisi seharian, ada acara menonton televisi namun dibatasi, ataukah tidak ada televisi sama sekali. Karena banyak penelitian yang ternyata membuktikan bahwa acara televisi ternyata banyak membawa dampak tidak baik pada anak-anak.
9. Saat ini banyak sekali daycare yang dibuka. Program, fasilitas, dan biayanya pun bermacam-macam, pilihlah yang sesuai budget Bunda, lokasi daycare yang dilewati Bunda saat bekerja / dekat dengan lokasi kantor, karena biasanya daycare memiliki aturan overtime, sehingga Bunda dapat menghemat biaya jika Bunda tidak terlalu lama menjemput.
10. Kenyamanan anak sangatlah penting, buatlah janji dengan pihak daycare saat akan melalukan trial atau menitipkan anak secara harian, sehingga pihak daycare siap akan kehadiran anak baru. Biasanya daycare akan membatasi anak baru karena sikap anak berbeda-beda, ada yang berani dengan lingkungan baru, ada yang masih lengket dengan bundanya, sehingga perlu penanganan ekstra dan lebih sabar. Terbukalah akan kondisi anak, sehingga pihak daycare pun dapat memberi program yang tepat untuk anak Ayah dan Bunda.
11. Daycare biasanya memiliki banyak pengasuh, ada juga yang bertugas sebagai pengawas pengasuh, hal ini membuat sesama pengasuh saling mengawasi dan dapat bekerja sama. Berbeda jika di rumah, anak hanya berdua dengan pengasuh, tentunya perhatian ekstra lebih dibutuhkan Bunda untuk memberi kepercayaan pada pengasuh.

Semoga ulasan dari saya dapat menjadi pertimbangan bagi Ayah dan Bunda saat mencari daycare dan pengasuh yang tepat bagi anak. Namun janganlah melepaskan pengawasan sepenuhnya pada pengasuh, karena walau bagaimanapun anak tetaplah amanah bagi para orang tua yang telah dipercaya oleh Allah SWT untuk mendidik dan membesarkan. Tetaplah mengambil peran terpenting dalam proses mendidik dan membesarkan anak, semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang dapat membawa kebaikan bagi kita di mata Allah SWT, amin.

parents

Golden Age

Usia 0 – 5 tahun adalah waktu terbaik dalam proses pembentukan kualitas diri seorang anak. Pada usia ini terjadi perkembangan fisik dan otak anak yang pesat. Pada 5 tahun pertama inilah kami menyebutnya sebagai Golden Age dimana segala sesuatu dapat cepat diserap dan ditiru anak.
Allah SWT menciptakan anak manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tanggung jawab orang tua untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak, agar anak dapat tumbuh dengan kualitas terbaik yang dimilikinya.
Pendidikan yang utama dimulai dari rumah, dengan ibu sebagai guru kehidupannya. Orang tua perlu mengetahui asupan gizi terbaik bagi anak sesuai dengan pertumbuhan usianya; stimulasi bagi perkembangan otak, kognitif, dan motoriknya; dan orang tua juga berperan penting terhadap pembentukan karakter dan kecerdasan emosionalnya .
ASI merupakan asupan gizi terbaik bagi bayi, jika tidak ada kendala yang berarti, berilah bayi 0-6 bulan ASI saja tanpa tambahan susu formula maupun makanan lain. Dengan ASI, insyaAllah gizi anak akan terpenuhi dan berpengaruh pula pada kecerdasan otaknya. Pemberian ASI sebaiknya diteruskan hingga usia anak 2 tahun.
Pemberian Predikat Anak ASI
Gambar

S1 ASIX = bayi lulus ASI Eksklusif hingga usia 6 bulan
S2 ASI = lulus ASI tanpa tambahan susu lain hingga usia 1 tahun
S3 ASI = lulus pemberian ASI dengan susu tambahan (UHT / sufor) hingga usia 2 tahun
Setelah usia 6 bulan barulah anak diberi MPASI (Makanan Pendamping ASI), dan berilah Homemade Food, bukan Instant Food yang biasanya sudah mengandung gula dan garam. Karena Bunda, setelah anak berusia 1 tahun, barulah Bunda boleh menambahkan gula dan garam dengan kadar yang sedikit. Tujuannya adalah agar kerja pencernakan bayi tidak berat dan saat dewasanya anak tidak menjadi picky eater.

Ayah dan bunda, selain asupan gizi yang bermanfaat bagi pertumbuhan fisik anak, ada asupan lain yang juga tidak kalah penting bagi perkembangan anak kelak. Salah satu asupan yang akan bermanfaat pada saat anak berusia 0 – 5 tahun adalah stimulasi bagi otak dan motorik anak.

Taukah bunda bahwa ternyata bayi memiliki daya belajar yang cepat? Ketika usia  8 bulan, otak bayi memiliki seribu trilliun jaringan syaraf, dimana pada saat usia 10 tahun, jumlahnya akan berkurang menjadi 500 trilliun, bahkan kurang. Dimana pengalaman di tahun awal kehidupan lah yang akan mempengaruhi pengurangan jumlah sel syaraf tersebut.
Prinsip kerja otak adalah: Gunakan, jika tidak, hilangkan..
Sehingga sayang sekali jika kita tidak memanfaatkan tahun – tahun awal kehidupan anak untuk memperkaya wawasannya.

Ada 3 tahapan pembelajaran yang berhubungan dengan Intellectual Development (Perkembangan Kecerdasan):
1. Usia 0 – 4 tahun           : 50% kemampuan belajar dikembangkan pada usia ini
2. Usia 4 – 8 tahun           : 30% kemampuan belajar dikembangkan pada usia ini
3. Usia 8 – 18 tahun         : 20% kemampuan belajar dikembangkan pada usia ini
(For your Child’s Success in School and Life : ETL Learning)
Balita memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan pembelajaran yang sangat besar. Terutama pada empat tahun pertama kehidupannya. Mereka mampu mengucapkan kembali kata-kata yang dikenalkan oleh orang-orang terdekat mereka setelah beberapa kali pengulangan, hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan orang dewasa yang memerlukan proses belajar yang lebih lama.

Stimulasi berupa komunikasi terhadap bayi (bahkan sejak masih berupa janin) dapat memperkaya kosa kata anak, sehingga memudahkan bayi belajar berbicara, juga dapat menjalin kedekatan emosional anak dan orang tua.
Kegiatan membaca buku bersama (orang tua dan anak) dapat dimulai sedini mungkin (saya menyarankan kegiatan ini dimulai sejak usia anak 6 bulan), hal ini akan membuat anak menyukai kegiatan membaca di saat dewasa, mempermudah anak belajar membaca saat usia sekolah, memperkaya wawasan dan kosa kata anak.

aktivitas bersama buku dan mainan, membuat anak merasa bahwa buku adalah benda yang menyenangkan seperti mainannya
aktivitas bersama buku dan mainan, membuat anak merasa bahwa buku adalah benda yang menyenangkan seperti mainannya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan fisik seperti bertepuk tangan, membuka lembaran buku, meniti tangga, berjalan di balok titian, dll, merupakan stimulasi terbaik bagi perkembangan motorik kasar dan motorik halus anak, yang akan berpengaruh bagi perkembangan otak mereka, kegiatan stimulasi ini dapat disesuaikan dengan usia mereka.

Jika ingin membuat anak ahli suatu bahasa, gunakan bahasa tersebut dalam keseharian sejak anak masih bayi. Namun jika orang tua tidak menguasai bahasa yang ingin dikenalkan ke anak (misal bahasa Inggris atau Mandarin), orang tua dapat memakai alat bantu yang sekarang bisa dijumpai, atau bekerjasama dengan lembaga pendidikan untuk menghadirkan program bahasa tersebut di rumah.

english time
Kami menggunakan English Time di Creative Land, dan anak-anak menyukainya. Jika bunda ingin menghadirkan program ini di rumah, bunda dapat menghubungi Ms. Ira
parents

Parenting

Apa sih bun Parenting itu?
Parenting adalah ulasan mengenai cara menjadi parents atau orang tua..

Penting nggak sih Miss parenting itu? Boleh nggak kalau saya absen ikut parenting?
Hmm… seberapa penting ya, jawaban saya pastinya puentiiinggg buangeeettt… apalagi para new parents (bahkan old parents pun perlu), kenapa.., karena sewaktu sekolah dulu hampir dipastikan kalau para ortu ini belum pernah mengikuti sekolah menjadi orang tua. Sehabis kenalan dengan calon suami, menikah, punya baby… lalu sibuk urus ini itu.. hmmm sempat tidak ya bunda dan ayah baca2 tentang cara menghadapi anak yang lagi masa-masanya tantrum (haa.. apa itu tantrum??), cara bermain dengan anak…
Karena ayah, bunda, jika kita ingin menjadi orang tua yang berhasil (yang artinya mempunyai anak sholeh, baik hati, pandai, berani, mandiri, dan seabrek nilai positif lain… mau kan..?) tentunya tidak asal saja menghadapi anak, sambil lalu, diserahkan ke baby sitter, atau daycare… Karena walau bagaimanapun ibu adalah madrasah pertama bagi anak, bagaimana keberhasilan anak (yang insya Allah juga akan menjadi keberhasilan ayah bunda) akan dibentuk sedari dini.
Jika putra dan putri ibu sudah bersekolah, terutama di Creative Land, jawaban saya wajib bu untuk ikut parenting.. Agar sekolah dan orang tua dapat bersinergi dalam membentuk anak. Menyamakan tujuan serta pola asuh anak, agar si anak tidak bingung. Di sekolah, guru mengajari anak “Jadi main game hanya boleh hari Sabtu dan Minggu ya…”, ternyata di rumah malah si anak disodori game setiap hari agar ibu terbebas dari “gangguan” anak dan bebas mengerjakan pekerjaan rumah..
Nah, sudah dapat dipastikan tujuan sekolah untuk membentuk anak ibu akan kandas jika kejadian tersebut terus berulang.
Karena dari hal kecil seperti ini lah, tujuan lain yang lebih besar akan tercapai. Seperti melatih kemampuan bicara anak, melatih kemampuan auditory anak, dan pada akhirnya kemampuan belajar anak.
-bersambung-

Mengingatkan: Sabtu, 26 Oktober 2013 jam 09.00 Parenting di Younger Class & Bagi Rapor ya bun…