JUJUR

Kemarin pagi, suasana TK B sedikit gaduh.
Ada yang menangis, sambil diselingi berbicara dengan nada tinggi, sekitar 5 menit kemudian, suasananya masih tetap gaduh.

Saya bergerak mendekat, untuk mengetahui ada masalah apa.
Ms Ismi, tengah bertanya pada salah satu anak, anak lain mengelus bahu yg sedang menangis.

Saya tidak melakukan intervensi, hanya mengamati.
“Ms Ismi mendengar 2 versi yang berbeda. A, B, dan C ceritanya sama. Sedangkan D, ceritamu berbeda.”

Jeda sebentar.

Lalu, “Nggak kok, aku lho cuma lihat saja. Terus dia nangis. Beneran”

Lalu anak yang menangis bersuara sambil terisak, “kamu tadi coret gambarku!” Lalu menunjukkan salah satu goresan di kertas jurnalnya.

Ms Ismi berbicara lagi, “Kita harus jujur, berkata yang sebenarnya. Ada 3 anak yang ceritanya sama, sedangkan hanya 1 yang ceritanya berbeda.”

Oh.. saya mengerti duduk persoalannya.
Lalu saya bergerak pergi meninggalkan kelas tersebut, melanjutkan pekerjaan saya kembali.

Jujur memang perlu dipupuk sejak dini. Berbicara hanya sesuai kenyataannya.
Sejak bayi lahir, ibu harus membiasakan proses berbicara jujur ini, yaitu:
Melakukan apa yang dikatakan, dan mengatakan apa yang dilakukan.
Sama kata dan perbuatan.

Sehingga sejak kecil, anak mendapatkan contoh nyata dari ibunya.

Bagaimana jika anak sudah terlanjur sering berbicara tidak jujur?

Biasanya pada anak usia dini jarang dijumpai anak2 yg tidak jujur, rata2 perkataan mereka masih dapat kita andalkan untuk tau yang sebenarnya (bagi anak2 yg perbendaharaan katanya sdh banyak, dan logikanya sdh mulai tampak baik).

Ada hal yang memicu anak2 berkata yg tidak sebenarnya:

  1. Takut
  2. Berupaya mendapat dukungan dari orang terdekatnya

Maka ketika anak melakukan kesalahan, sebaiknya sikap kita biasa saja, namun tetap tegas terhadap konsekuensi.
Misalkan anak menumpahkan air, padahal sdh kita ingatkan sebelumnya, maka cukup kita biasakan agar anak bertanggung jawab, mengambil lap dan mengeringkan air yg tumpah tsb.
Tidak perlu kita mengomel, memarahi, mencubit, memukul, atau berteriak.

Kita dapat membahasnya setelah anak selesai melakukan kewajibannya membereskan yang tadi dia perbuat.

Anak2 yang terbiasa mendapat masalah karena kejujurannya, akan terbiasa pula untuk bersikap bertahan dengan cara menutupi apa yg dilakukannya untuk mengamankan posisinya, agar dia tidak dimarahi atau dihukum.

Maka sangat penting bagi kita untuk terus memberinya informasi, bahwa tidak apa jika yang dilakukannya salah, untuk nanti diperbaiki, atau dibereskan masalah yang terjadi.
Yang lebih penting adalah berkata benar, sesuai kejadiannya.
Dan hal ini harus selalu dikuatkan, setiap kita mendeteksi bahwa yang dikatakannya tidak benar.

Balikpapan, 15 Mei 2019
Martina Irawati Riyadi
PAUD Creative Land

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s