Bakti Sosial di bulan Ramadhan

Alhamdulillah, pekan ini ditutup dengan kegiatan baksos Ramadhan di hari Jumat yang penuh barokah.

Kegiatan ini kami kemas dengan berbagi pada masyarakat sekitar yang ada di lingkungan sekolah, baksos on the road, dan juga insyaAllah Senin kami akan mengunjungi beberapa orang dlm kondisi kekurangan yg berada di sekitar rumah guru.

Kegiatan bakti sosial di bulan Ramadhan ini kami lakukan dengan melibatkan seluruh komponen di sekolah, harapannya selain mengharapkan keberkahan dari Yang Maha Kuasa, juga untuk membuka mata anak2 didik pada kondisi di sekitar, bahwa ada banyak orang yang kondisinya kurang beruntung.

Empati dapat dibangun saat membawa anak2 ke lapangan, bertemu anak2 penjual koran, petugas kebersihan, dan pemulung.

Sikap syukur dapat kita kenalkan pada anak2 dari kegiatan ini.

Saat saya bertanya pada anak2 bagaimana perasaannya ketika berkeliling, ada 1 jawaban yang sama : SENANG.
Ya, ada 1 pembelajaran yg dapat kita ambil saat itu, bahwa ternyata BERBAGI ITU MENYENANGKAN.
Berbagi kebahagiaan akan membuat kita yg menyebarkannya pun turut bahagia.
Walaupun panas, capek, tetapi bahagia..

Barakallaah..
Terimakasih pada seluruh orang tua murid, pihak komite, anak2, tim guru, dan semua yg terlibat dalam kegiatan ini.
Semoga menjadi amal dan ladang pahala bagi kita semua, aamiin ya Robbal Aalamiin.

Balikpapan, 26 Mei 2019
Martina Irawati Riyadi
PAUD Umum & SDIT Creative Land

JUJUR

Kemarin pagi, suasana TK B sedikit gaduh.
Ada yang menangis, sambil diselingi berbicara dengan nada tinggi, sekitar 5 menit kemudian, suasananya masih tetap gaduh.

Saya bergerak mendekat, untuk mengetahui ada masalah apa.
Ms Ismi, tengah bertanya pada salah satu anak, anak lain mengelus bahu yg sedang menangis.

Saya tidak melakukan intervensi, hanya mengamati.
“Ms Ismi mendengar 2 versi yang berbeda. A, B, dan C ceritanya sama. Sedangkan D, ceritamu berbeda.”

Jeda sebentar.

Lalu, “Nggak kok, aku lho cuma lihat saja. Terus dia nangis. Beneran”

Lalu anak yang menangis bersuara sambil terisak, “kamu tadi coret gambarku!” Lalu menunjukkan salah satu goresan di kertas jurnalnya.

Ms Ismi berbicara lagi, “Kita harus jujur, berkata yang sebenarnya. Ada 3 anak yang ceritanya sama, sedangkan hanya 1 yang ceritanya berbeda.”

Oh.. saya mengerti duduk persoalannya.
Lalu saya bergerak pergi meninggalkan kelas tersebut, melanjutkan pekerjaan saya kembali.

Jujur memang perlu dipupuk sejak dini. Berbicara hanya sesuai kenyataannya.
Sejak bayi lahir, ibu harus membiasakan proses berbicara jujur ini, yaitu:
Melakukan apa yang dikatakan, dan mengatakan apa yang dilakukan.
Sama kata dan perbuatan.

Sehingga sejak kecil, anak mendapatkan contoh nyata dari ibunya.

Bagaimana jika anak sudah terlanjur sering berbicara tidak jujur?

Biasanya pada anak usia dini jarang dijumpai anak2 yg tidak jujur, rata2 perkataan mereka masih dapat kita andalkan untuk tau yang sebenarnya (bagi anak2 yg perbendaharaan katanya sdh banyak, dan logikanya sdh mulai tampak baik).

Ada hal yang memicu anak2 berkata yg tidak sebenarnya:

  1. Takut
  2. Berupaya mendapat dukungan dari orang terdekatnya

Maka ketika anak melakukan kesalahan, sebaiknya sikap kita biasa saja, namun tetap tegas terhadap konsekuensi.
Misalkan anak menumpahkan air, padahal sdh kita ingatkan sebelumnya, maka cukup kita biasakan agar anak bertanggung jawab, mengambil lap dan mengeringkan air yg tumpah tsb.
Tidak perlu kita mengomel, memarahi, mencubit, memukul, atau berteriak.

Kita dapat membahasnya setelah anak selesai melakukan kewajibannya membereskan yang tadi dia perbuat.

Anak2 yang terbiasa mendapat masalah karena kejujurannya, akan terbiasa pula untuk bersikap bertahan dengan cara menutupi apa yg dilakukannya untuk mengamankan posisinya, agar dia tidak dimarahi atau dihukum.

Maka sangat penting bagi kita untuk terus memberinya informasi, bahwa tidak apa jika yang dilakukannya salah, untuk nanti diperbaiki, atau dibereskan masalah yang terjadi.
Yang lebih penting adalah berkata benar, sesuai kejadiannya.
Dan hal ini harus selalu dikuatkan, setiap kita mendeteksi bahwa yang dikatakannya tidak benar.

Balikpapan, 15 Mei 2019
Martina Irawati Riyadi
PAUD Creative Land