parents

KEKUATAN BERBAHASA

===================
BAHASA = KEKUATAN
===================

“Hebat ya apa yg dilakukan Si Bungsu ini”
Itulah yg terlintas saat menonton video ini.

Namun mari dirunut apa yg terjadi sebelumnya.

Sore itu si Bungsu keluar masuk melewati pagar, tanpa ada yg mengawasi.

Saya dari dalam rumah, dibalik pintu dengan sedikit berteriak berkata “Nak masuk, kalau tidak.. mama tutup pintunya”

Apa yg selanjutnya terjadi?
Si Bungsu mengamuk dan membuang hampir semua sepatu yang ada di dekatnya.

Saya segera keluar dan melakukan hal yg membuatnya semakin tdk nyaman.
Dan yang dilakukannya untuk membalas saya adalah berteriak histeris, lalu membanting rak sepatu hingga menjadi beberapa bagian.

Saya terkejut dan segera menyadari pola komunikasi saya yg salah.

Segera saya menenangkan diri saya sendiri.
Lalu mengangkat putra saya dan mendudukkannya di pinggir ayunan.

Saya berkata padanya dengan nada yang pelan, “Sudah tenang dulu, lihat apa yg terjadi. Raknya patah. Mama tadi marah sekali padamu, dan sekarang mama sedih. Jika rak nya rusak, kita tidak akan punya rak sepatu lagi”

Si Bungsu terdiam, lalu menyeka air matanya, dan mulai tersenyum jahil, senyuman andalannya saat menyadari bahwa yang dia lakukan adalah salah.
Kemudian dia berkata, “Maaf, ya ma”

Lalu kulanjutkan “Mama harap, kamu bisa bertanggung jawab, merakit kembali rak sepatunya. Jika sdh selesai, kamu bisa masuk ke dalam rumah. Mama tunggu di dalam”

Alhamdulillah tanpa bantuan siapapun dia merakitnya hingga tuntas. Saya membantunya mengarahkan dari jauh jika dirinya kesulitan.

Pelajaran yang kudapat hari itu, dan selaras dengan apa yang saya pelajari dalam metode sentra yang kami lakukan di sekolah, dimana kami membentuk karakter anak lewat pola kalimat atau bahasa yang kami ucapkan :

1. Pola komunikasi ancaman (yg saya lalukan pertama) malah memancing emosi anak.

2. Tindakan yg dilakukan dgn emosi, akan membuat anak tidak nyaman, dan dirinya akan mulai menyerang untuk memperlihatkan eksistensi dirinya.

3. Pola komunikasi yg baik tanpa emosi ternyata lebih diterima anak, dan menumbuhkan empati dgn memberi tahu anak perasaan kita.

4. Ketika orang tua menyadari kesalahan dan terjebak dalam emosi yang negatif, segera diam untuk menata emosi, sebelum berbicara dan bertindak.

Balikpapan, 17 Agustus 2018
Martina Irawati Riyadi, SE
Creative Land Preschool

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s