Uncategorized

Membaca

Membaca, Iqro..

Perintah membaca ini datang pertama kali pada Rasulullaah SAW, kami mengambil hikmah bahwa perintah membaca ini bukan saja dimaknai sesuai arti kata tersebut.

Membaca dapat dimaknai sebagai mengamati suatu keadaan, mengamati perilaku anak, mengamati keputusan-keputusan yang diambil, lalu menarik kesimpulan berdasarkan ilmu yang ada dan yang dimiliki.

Oleh sebab itu lah, sangat penting bagi kita, sebagai orang tua mencari ilmu agar dapat “membaca” anak kita. Kenapa dia berbuat demikian, apa yang menyebabkan anak marah, bagaimana cara berkomunikasi pada anak dengan tepat, dan banyak hal lainnya yang harus kita pelajari.

Banyak dijumpai konflik antara orang tua dan anak2 yang menginjak masa awal remajanya. Saya pun sempat mengalaminya.

Mengapa semakin besar, anak saya semakin sulit diatur? Kenapa anak saya hampir 80% hari2nya dilewati dengan emosi?

Ternyata kesalahan terletak hampir semua di saya, sebagai orang tua yang tidak mampu membaca fase tumbuh kembang anak saya.

Di usia 10 thn, logika anak mulai terbentuk, kemampuan berbahasanya jauh berkembang jika dibandingkan dengan anak usia dini. Lihatlah, anak2 usia seperti ini akan mulai menjawab lontaran kata2 kita, membalikkan kata2 kita dengan yang biasa kita ucapkan dahulu.

Perlu waktu yang cukup lama untuk saya berdamai dengan si sulung. Dan itu saya temui saat belajar tentang metode sentra. Acceptance adalah hal pertama yg harus kita pahami. Menerima bahwa ternyata memang anak usia awal remaja adalah masanya ingin diakui keberadaannya, tidak mudah disuruh2. Kata maaf pun saya ucapkan pada si sulung, “Maaf ya, Mama sering marah2 sama kakak”. Hal ini membuat kami berdua meneteskan air mata.

Tidak ada gunanya menggunakan kekerasan, kualitas dalam berkomunikasi lebih memiliki daya keberhasilan untuk kita dalam menghadapi anak2 dalam usia ini.

Saya mulai merubah gaya komunikasi saya. Menemui tas, baju, berserakan di lantai, tidak lagi menggunakan omelan.. tidak lagi menggunakan nada tinggi.

Menjumpai waktu sholat tiba, tapi si Sulung masih saja bermain dengan adiknya. Saya tidak pernah menyuruhnya lagi. Sebab seringnya akan berakhir saya ngomel panjang lebar dan dia semakin tdk berangkat sholat. Cukup merubah pola komunikasi saya.

“Kak, waktunya sholat magrib. Sekarang jam 18.45, kakak mau sholat jam berapa?”

Ternyata dengan membuatnya menjadi pembuat keputusan untuk dirinya sendiri cukup berhasil menenangkan suasana panas yg beberapa kali kami alami.

Saya pun bertanya lagi, “nanti mau diingatkan berapa kali?” Dan biasanya Sulung saya menjawab “1x aja, Ma”

Jika ada yang ingin saya bahas dengannya, saya pun memilih waktu saat anak saya mulai tenang, lupakan cara lama emak2 (mengomel), sebab semburan kata2 kita tdk akan pernah didengar 😁. Mubadzir.

Ketika suasana tenang, mulailah membuka komunikasi, menanyakan pemicu masalahnya, menggali akar permasalahan sangatlah penting, lalu kita beri masukan dari sudut pandang kita (orang dewasa), tanyakan kembali pendapatnya, kira2 penyelesaian terbaik menurutnya yg mana.

InsyaAllah masalah menghadapi anak remaja di rumah akan teratasi jika kita sebagai orang tua dapat menekan ego, bersabar, dan satu yang paling penting, memohon pertolongan dari Allah SWT.

Sedangkan untuk video di bawah ini, Iqro atau membaca sesuai makna nya ya, kapan waktu yang pas menggunakan cara drilling seperti ini? Saat anak mulai bertanya, apa ini, huruf apa ini, itu bacanya apa.

Akan tetapi, setting lingkungan untuk menunjang kemampuan literasinya harus dilakukan sejak dini. Dengan cara2 yg menyenangkan, tentunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s