Diposkan pada Uncategorized

Masih kecil kok sudah sekolah?

Ada pernyataan dari seorang psikolog terkenal di Indonesia mengenai tidak perlunya anak masuk PAUD atau TK..

Hmm.. yakin kah?

Saya pribadi memang kurang setuju dengan statement beliau. Mengapa? Sebab tidak semua orang tua paham tahapan perkembangan anak, sedangkan kami yang berkecimpung di dunia pendidikan mempelajarinya.

Sebelum saya memiliki sekolah dan berkecimpung di dunia pendidikan anak usia dini, saya hanya kenal dengan 1 anak kecil saja, yaitu anak pertama saya.

Pertama kali melahirkannya, apakah saya tahu cara mengurus bayi? Tidak.. akhirnya ibu saya lah yg turun tangan mengajari setelah anak pertama saya lahir. Apakah banyak yg seperti saya? Belajar tidak sebelumnya.

Yang saya pelajari saat kehamilan hanya mengenai ASI saja.. maka pada akhirnya sukseslah ASI eksklusif untuk anak2 saya. Ternyata pembelajaran saya kurang, saya tidak mencari tahu tentang MPASI, jadilah anak pertama saya susah sekali makan, dan itu masih terus berlangsung hingga di usianya yang sudah terbilang besar.

Bayangkan, kesalahan perlakuan pada usia dini, akan menyebabkan karakter anak terbentuk salah juga.

Setelah saya berkecimpung di dunia pendidikan, saya jadi paham mengatasi anak tantrum, anak memiliki potensi besar yang Allah SWT berikan bergantung pada stimulus yang diberikan oleh lingkungannya. Dan saya menjadi semakin expert sebab saya berhadapan langsung dengan anak2 yg luar biasa, dengan keunikan mereka masing-masing. Saya pun menemui beragam teori, yang pada akhirnya saya jatuh cinta dengan metode sentra. Dan akhirnya Creative Land Preschool menerapkan metode ini dari baby daycare. Dan insyaAllah akan diteruskan ke jenjang SD.

Kenapa sekolah yang mengusung pendidikan anak usia dini sangat penting?

1. Sebab banyak orang tua yang tidak paham dgn tahapan perkembangan anak.

2. Sebab banyak ortu men-sub kontrakkan pada mbak, baby sitter, kakek-nenek, atau pihak lain..

3. Tanyakan metode belajarnya. Jika fokusnya adalah calistung dan ala sekolah negeri jaman dulu jika mengajar, dgn gaya klasikal dan harus duduk sepanjang hari.. ya ini yang saya tidak sarankan.. sebab fitrahnya anak usia dini harus bergerak (bergerak yang tidak berlebihan). Metode yang memaksimalkan anak bermain dengan mengerti untuk apa permainan tsb diadakan dan pendampingan yg optimal akan memaksimalkan potensi anak.

4. Orang tua pun harus belajar mengenai tahapan perkembangan anak, maka sangat baik jika sekolah tidak hanya mengurus pendidikan anak, tetapi pendidikan untuk orang tuanya pula HOW TO BE PARENTS, sebab seyogyanya memang anak adalah tanggung jawab orang tua, sekolah hanyalah partner orang tua dalam mendampingi anak2.

5. Anak-anak tidak perlu belajar bersosialisasi di usia dini?? Hmm.. justru karakter yg kita bentuk sejak dini akan membekas dalam pada ingatan anak dan akan membentuk karakternya. Apakah ibu mengajarkan untuk meminta maaf salah.. itu adalah salah satu bentuk norma yg diperlukan saat bersosialisasi. Memang anak usia dini masih berpikir dengan egosentris.. namun anak perlu diberi informasi mengenai cara berkomunikasi yang baik dan informasi mengenai kebutuhan orang atau anak di sekitarnya. Toh itu yang akan terjadi jika Ayah dan Ibu memiliki anak lebih dari 1.. jadi segalanya memang perlu diinformasikan sejak dini.. tidak menunggu mereka berusia 7thn.

Anak lebih baik bersama dengan ibunya.. setuju.. sebab ibu adalah madrasah utama, dan sekolah hanyalah partner untuk membentuk anak. Dan ibu haruslah belajar mengenai ilmu menjadi orang tua.

Yuk bentuk #indonesiastrongfromhome

Balikpapan, 28 Desember 2017

Martina Irawati R, SE

Penulis:

a wife.. a mother from 3 lovely children, Zahra , Fatih , and Hafidz..

3 tanggapan untuk “Masih kecil kok sudah sekolah?

  1. Saya termasuk yang sependapat dengan sampean. Memang pendidikan anak sia dini sangat penting terutama untuk pembentukan karakter. Dan berkaitan dengan quotes atau penyataan dari seorang ahli yg kadang bertentangan dengan kenyataan atau pemahaman orang pada umumnya. Akhir akhir ini memang sering saya jumpai orang² seperti itu. Ada di antra mereka yg melakukan hal itu memang ada yg benar. Artinya mematahkan anggapan masyarakat umum tentang suatu hal yg umum di lakukan namun kurang tepat atau memiliki dampak negatif. Dan imbangi dengan data atau fakta yang mendukung.Tapi banyak juga di antara mereka (para ahli) yg melakukan hal itu agar dirinya lebih di kenal halayak luas da menjadi sorotan.

    1. Di CL bukan piknik, pak..
      tidak ada orang tua yg ikut menemani saat anak2 outing school. Mereka bertanggung jawab dgn barang bawaan mereka. Mereka mengobservasi apa yg dilihat, didengar, dan dirasa.

      Kami membangun kebiasaan yg mungkin bahkan berbeda dengan apa yg diterapkan di rumah. Di rumah anak disuapi, kami membangun mindset ortu lewat parenting. Anak menjadi raja di rumah, kami restruktur ulang pola pikir ortu, semoga dengan terbangunnya ortu yg mengerti tumbuh kembang anak, insyaAllah terbangun pula karakter anak yg kuat, siap menjadi pemuda dan pemudi yg akan menerima estafet kepemimpinan kelak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s